Perjuangan Rozy, Putra Sorong yang Sukses "Mendarat" di ITB


Perjuangan Rozy, Putra Sorong yang Sukses "Mendarat" di ITB

keramaian-beasiswa-itb

Artikel ini menceritakan tentang perjuangan Rozy dari Sorong, hingga akhirnya ia bisa belajar di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Apa hmm? Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar nama Kota Sorong? Lokasinya di Papua Barat belum membuat banyak fasilitas yang ada seperti di Jawa, terutama dalam hal pendidikan. Dilansir dari antaranews.com pada November 2018, Sorong masih minim dengan pendidik. Selain itu, masyarakat juga tidak sepenuhnya terbuka dengan kedatangan pendidik. Hasilnya, seperti dikatakan Ketua Satuan Tugas Papua UGM, Bambang Purwoko, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua dan Papua Barat menjadi lebih rendah dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

Situasi ini, membuat Fardoni Rozy Saputra, seorang siswa SMA Averos Sorong, penasaran untuk mengunjungi Jawa serta mencicipi pendidikan di pulau terpadat di Indonesia ini. Dia memulai upaya pertamanya melalui pemilihan balapan. Sayangnya, anak yang lahir dan besar di Papua Barat telah berulang kali ditolak oleh sekolah-sekolah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ikut serta dalam Kompetisi Sains Nasional di Jakarta. Alasannya, karena nilainya tidak cukup. Namun, dia tidak menghentikan usahanya. Dua tahun berusaha, semua kerja keras terbayar.

rozy-beasiswa-itb-1Rozy dan teman-teman di Camp STEM ASEAN-CHINA untuk Pemuda di Singapura (sumber: dokumen pribadi)

Impian Rozy, begitu ia dijuluki, untuk naik pesawat ke Jawa menjadi kenyataan. Bahkan, dia sudah terbang jauh ke Singapura. Beberapa prestasi Rozy termasuk menjadi wakil dari Papua Barat di Olimpiade Sains Nasional 2018, dan delegasi Indonesia ke Camp STEM ASEAN-CHINA untuk Pemuda di Singapura. Tidak hanya di luar sekolah, Rozy juga aktif dalam berbagai kegiatan intra-sekolah, seperti klub robotika dan KIR (Youth Scientific Work).

Rozy memang merasa bangga dengan semua prestasi yang telah diraihnya di luar sekolah, tetapi tampaknya itu berdampak pada nilai-nilainya di sekolah. Mulai dari semester 5, nilainya turun.

"Aku tidak pernah pergi ke sekolah selama sebulan," akunya.

Dia tentu tidak mau menyalahkan ras. Tetapi di satu sisi, ia tidak dapat menyangkal bahwa jadwalnya yang sibuk harus mengubur harapannya untuk berpartisipasi dalam rute SNMPTN. Sebab, dia tidak bisa memenuhi persyaratan utama sekolah, yaitu nilai yang selalu naik dari semester 1-5.

rozy-beasiswa-itb-2Daftar pencapaian Rozy

Satu jalan ditutup, membuat anak pertama dari dua saudara kandung tidak ingin bermain-main dalam persiapan untuk UNBK dan UTBK. Meski dia mengaku belum siap karena hampir seluruh waktunya sejak Juli-Desember 2018 dihabiskan untuk persiapan kompetisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pertanyaannya adalah, bagaimana Anda bisa mengejar ketinggalan?

Baca juga: Dayat: Anak-anak di Pedalaman Aceh yang lulus SNMPTN untuk Gelar Ganda

Ada masalah, pasti ada solusinya. Rozy akhirnya merekomendasikan les on line Ruangguru oleh teman sekelasnya. Sejak itu, Ruangguru datang untuk menjadi rekan belajarnya.

"Mulai belajar itu sulit, istiqomah belajar juga sulit. Tapi ingat, dengan kesulitan ada kemudahan. "

rozy-beasiswa-itb-3Rozy dan rekan di 2018 Indonesia Science Expo (sumber: dokumen pribadi)

"Alhamdulillah semuanya diambil alih berkat Ruangguru, "kata seorang bocah Jawa dalam sebuah wawancara dengan Ruangguru.

"Bahan tidak jauh berbeda dengan yang ada di sekolah. Tapi, dengan penjelasan dan video animasi yang menarik, semuanya lebih mudah dipahami. Apalagi ditambah soal latihan untuk menguji kemampuan. "

Menurut dia, mencoba UTBK Ruangguru sangat membantu untuk memahami deskripsi ujian yang harus dihadapi. Bahkan pelajaran yang tidak dipahami di sekolah dapat dipahami melalui video dan tutor interaktif dari Ruangguru.

Kurang dari 6 bulan selama setiap hari ia belajar di Ruangguru, Rozy berhasil lulus di 2 universitas negeri pada saat yang sama, jalur pencapaian FITB (ITB) SBMPTN dan jalur pencapaian Teknik Kimia (UGM). Namanya tercatat sebagai penerima beasiswa. Dengan pertimbangan ekonomi, Rozy akhirnya memilih ITB karena beasiswa yang diperolehnya mengharuskannya belajar di kampus kebanggaan presiden pertama Indonesia.

Sekarang, Rozy telah mencapai impian terbesarnya – menikmati pendidikan di Jawa. Tapi, bukan berarti Rozy berpuas diri. Bahkan di kampus, mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini tetap aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dia sering berpartisipasi dalam Gamais (keagamaan) UKM, Unit Kegiatan Irian, Robotika, dan juga aktif dalam kegiatan asrama.

Tidak ada yang tak mungkin. Kisah Rozy yang tinggal di Sorong untuk dapat "naik pesawat" ke kampus favorit seperti ITB adalah salah satu bukti bahwa kerja keras pasti membuahkan hasil. Ruangguru adalah solusi bagi mereka yang memiliki masalah seperti Rozy. Jadi, kamu yang juga punya keluhan seperti itu, tidak perlu khawatir lagi. Ada ribuan video pembelajaran di ruang belajar yang akan membantu Anda memahami materi pelajaran dengan lebih mudah.


Like it? Share with your friends!

0

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

More From: Ruang Guru

DON'T MISS